Hello, I am MAJALAH.KOMUNITAS
See my profile


April 2009

SMTWTFS
1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Tag

Latest comments

Latest posts

Syndicate content

Add to My Dada

Add to My Dada

Share your contents

De.licio.us
Categories BIOGRAFI

G 30 S PKI

by MAJALAH.KOMUNITAS (04/26/2009 - 21:08)

Remembering the Communist Party (PKI) in the post Suharto era.
Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya - Jakarta Timur, foto, Ahad, 26 April 2009

G30S PKI Under General Suharto, after 1984, every September 30th citizens, particularly s... (Continue)

UNGGUL : NURUL ARIFIN DI DAPIL VII, MAHFUDZ ABDURRAHMAN DI DAPIL VI, DAN NURUL QOMAR DI DAPIL VIII

by MAJALAH.KOMUNITAS (04/21/2009 - 06:27)


Nurul Arifin menerima foto dengan penggema sekaligus konstituennya, jangan lupa janjinya neng, udah jadi nich.

HASIL SEMENTARA DAPIL JABAR VII
KARAWANG-BEKASI-PURWAKARTA
(10 KURSI)


1. Nurul Arifin, S.IP, M.Si : 13.509 (GOLKAR)
2. Saan Mustofa... (Continue)

GITA KDI MASIH AMAN DIURUTAN KE 8 PEROLEHAN KURSI DI DAPIL JABAR XI

by MAJALAH.KOMUNITAS (04/21/2009 - 06:20)


Gitalis Dwi Natania (GITA KDI) Caleg dari PKB melenggang ke senayan, dari 11 kursi kuota Dapil Jabar XI, Gita mampu bertaut di ururtan ke - 8, (foto;ist)

HASIL PENGHITUNGAN SEMENTARA SUARA PEMILU 2009 DAPIL JABAR XI
11 KURSI
(GARUT-KOTA TASIKMALAYA...
(Continue)

Dra. Hj. Sri Dahyatni, S.Sos : Ciptakan Pendidikan Murah Untuk Rakyat

by MAJALAH.KOMUNITAS (03/27/2009 - 06:57)


Ibu Dra. Hj. Sri Dahyatni, S.Sos : Calon Anggota DPRD Kota Bekasi Daerah Pemilihan Kecamatan Bekasi Utara, Nomor Urut 2 dari PARTAI MATAHARI BANGSA (PMB)


Program :

a. Peningkatan kualitas pendidikan mulai dari TK-SMA baik negeri maupun swasta, madrasah maupun umum.

b. Terselenggaranya pendidikan murah bagi Kota Bekasi

c. Peningkatan kesehatan bagi warga

d. Peningkatan pemberdayaan bagi perempuan


Nama                                       : Dra Hj  Sri Dahyatni S.Sos

Tempat Tanggal Lahir               : Solo 11 Juni 1958

Umur                                        : 50 Tahun

Jenis Kelamin                           : Perempuan

Agama                                     : Islam

Status Perkawinan                    : Kawin

Nama Suami                             : Drs H Dardiri

(Sekretaris Yayasan Al  Husna Bekasi Utara)

Jumlah anak 5 (lima)                 : 1. Himmatul Husnah SH (Mahasiswa)

  2. Khairun Nisaa S  Ked (Mahasiswa)

  3. Ahmad Gozali Dardi (Mahasiswa)

  4. Siti Munawaroh ( Pelajar Santri)

  5. Ahmad Waliudin Darda (Pelajar Santri)

Alamat Tempat Tinggal             : Jl. Durian Raya C XI/45 Taman Wisma Asri

                                                  Bekasi Utara, Kota Bekasi 17121

Riwayat Pendidikan               :

            a.  SD Negeri Bumijo Yogyakarta lulus tahun 1970 (kelas  1 s/d 3 di Baturen     

                Wonogiri)

            b. SMP Negeri VI Solo lulus tahun 1973

            c. SMEA Negeri 1 Yogyakarta lulus tahun 1976

            d. Sarjana Muda IKIP Yogyakarta  lulus tahun 1980

            e. Sarjana IKIP Yogyakarta lulus tahun 1983

            f. Sarjana FISIPOL Universitas Terbuka  lulus tahun 2004

            g Sedang menyelesaikan Program Pasca Sarjana (S2) UHAMKA Jakarta

Riwayat Organisasi               :

            a. HMI/KOHATI IKIP  Yogyakarta 1977-1980

            b. Anggota Resimen Mahasiswa IKIP Yogyakarta 1979-1983

            c. Sekretaris Aisyiyah Cabang Bekasi Utara  1996-2000

            d. Ketua Aisyiyah Cabang Bekasi Utara tahun 2000-2005

            e. Anggota Majelis Dikdas Aisyiyah Daerah Bekasi tahun 2000-2005

            f. Aisyiyah daerah Kota Bekasi Ketua Majelis Pendidikan 2005- sekarang

Riwayat Pekerjaan dan Alamat Pekerjaan :

a. Asistensi mata Kuliah Stemografi di jurusan Administrasi FKIS-IKIP

    Yogyakrta,  tahun 1980-1983          

b. Guru SMP Islam Diponegoro Colombo Yogyakarta 1980-1982

c. Guru Organik SMK Strada Jakarta   1983-sekarang

d. Tenaga pengajar di LPPI Jakarta tahun 1984-1988

e. Ketua Jurusan Sekretaris Yayasan Pendidikan Wijayakusuma Jakarta tahun     

    1984-1993    

f. Ketua Jurusan Perhotelan YP Wijayakusuma Jakarta  tahun 1990

g. Pembantu Direktur III Bidang Pendidikan Politeknik Wijayakusuma tahun

    1987-1989

h. Tenaga Pengajar Perhotelan IC Jakarta tahun 1987

i. Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 01 Kota Bekasi  tahun 1999- sekarang

j. Dosen STIENI Jakarta

 


Politik Menentukan Nasib Guru 'SUKWAN'

by MAJALAH.KOMUNITAS (02/07/2009 - 10:22)


Oleh : Tengku Imam Kobul Moh Yahya S

Ada banyak istilah panggilan guru saat ini. Selain 'Pahlawan Tanpa Tanda Jasa', 'Oemar Bakri', mereka di panggil sesuai dengan status guru mengajar. Misalnya; ada guru sukarelawan (Guru Sukwan), Guru Bantu, Guru ... (Continue)

Joni, Guru di Tapal Batas Borneo

by MAJALAH.KOMUNITAS (01/30/2009 - 03:18)


Mimpi Joni sejak kecil adalah menjadi guru. Setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama, dia pun masuk sekolah pendidikan guru (SPG) di kota kelahirannya, Sanggau, dan tamat tahun 1986.

Pernah menjadi buruh bangunan, penambang emas, tukang ojek, ... (Continue)

DR SETO MULYADI PSi MSi alias KAK SETO

by MAJALAH.KOMUNITAS (01/25/2009 - 18:35)

Sahabat Anak-anak Indonesia


Kedekatannya dengan dunia anak membuat dia begitu dikenal sebagai sahabat dan pendidik anak-anak. Namun, tidak banyak yang tahu kalau peraih The Outstanding Young Person of the World 1987 ini pernah melalui getirnya hidup menjadi pembantu rumah tangga, tukang batu, dan tukang semir sepatu di Blok M.

 Seto Mulyadi yang kemudian dikenal sebagai Kak Seto pada awalnya bercita-cita menjadi dokter. Manusia berencana tapi Tuhan yang menentukan. Seto malah mendedikasikan hidupnya demi kemajuan anak-anak.

 Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951 ini memiliki saudara kembar, dr. Kresna Mulyadi dan seorang kakak yang menjadi anggota ABRI. Ketika masih kecil, Seto termasuk anak nakal dan tidak bisa diam. ''Saya ini bengal,'' katanya.

 Akibat kebengalannya, Seto pernah jatuh saat bermain sampai kening kirinya sobek. Untuk menutupi bekas jahitan, potongan rambutnya dibuat ala The Beatles. Sampai dewasa, ketika sudah menjadi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi tetap setia dengan model rambutnya.

 Perjalanan hidup Seto di masa muda penuh liku yang pahit. Ayahnya, Mulyadi - direktur perusahaan perkebunan negara di Klaten - meninggal pada 1966 saat Seto masih berusia 14 tahun. Ekonomi keluarganya pun mulai kembang-kempis. Untuk mengatasi tekanan ekonomi ini, Seto terpaksa dititipkan ke rumah bibinya di Surabaya , bersama kakak dan saudara kembarnya, Kresna. Di sana , Seto melanjutkan sekolahnya di SMA St. Louis Surabaya .

 Demi meringankan beban bibinya, juga untuk memenuhi biaya sekolah, Tong - panggilan akrab Seto dalam keluarganya – nyambi jadi pengasong di jalan-jalan selepas sekolah. Ia aktif pula mengisi sebuah rubrik untuk anak-anak di majalah terbitan Surabaya , Bahagia. “Di situ saya mulai memakai nama Kak Seto,” ujarnya. Sejak itulah, dan sampai sekarang, ia dikenal dengan panggilan Kak Seto.

 Walau sekolah sambil bekerja, Seto tetap bisa aktif di OSIS bersama kembarannya. Bahkan rapornya selalu bagus. Lulus SMA, ia bercita-cita melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran. Tapi, cita-citanya menjadi dokter kandas, tatkala tak diterima di fakultas kedokteran, baik di Universitas Airlangga maupun Universitas . Sementara Kresna diterima di kedokteran dan kakaknya, Ma’ruf, masuk Akabri.

 Diam-diam, Seto memendam kekecewaan. “Hidup seperti itu membuat saya tertekan hingga akhirnya saya memutuskan meninggalkan rumah dan pergi ke Jakarta ,” tuturnya. Subuh, 27 Maret 1970, ia pun berangkat tanpa pamit, hanya meninggalkan surat kepada ibunya.

 Tiba di Jakarta sebagai penganggur yang luntang-lantung, Seto menumpang di garasi milik keluarga temannya, yang kebetulan ia kenal di kereta. Tidur beralaskan dua keset yang digabung, ia hidup sehari-hari dari penghasilan sebagai tukang batu, serta sesekali menulis di majalah Si Kuncung. Sembari bekerja serabutan dia kemudian mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas , tahun berikutnya. Tapi, seperti halnya kala di Surabaya , kali ini pun kegagalan kembali menyertainya.

 Seto kemudian mencoba melamar pekerjaan ke hotel-hotel. Namun, akhirnya ia malah menjadi tukang cuci dan pel suatu keluarga yang kebetulan mempunyai anak cacat. Seto, yang juga bertugas merawat anak tersebut, harus bersedia menempati ''kamar'' bekas kandang ayam yang berhadapan dengan WC. ''Baunya minta ampun,'' ia mengenang.

 “Waktu baru di Jakarta , saya mulai dari bawah, ya, saya kerja jadi pembantu rumah tangga, jadi tukang batu, jadi tukang semir sepatu di Blok M,” kenang Seto. “Berat sekali keadaan waktu itu, dibentak-bentak dan dimarahi oleh tuan saya,” lanjut pria yang merasa tenang bila dekat ibunya ini. Hingga suatu ketika, di rumah tempatnya menumpang, ia tertarik pada acara yang diasuh Bu Kasur di TVRI.

Satu hal, kalau melihat orang lain mampu melakukan sesuatu, Seto selalu berpikir, ''Ah, saya juga bisa.'' Lalu dicarinyalah rumah Bu Kasur, dengan niat ngenger (berguru). Pak Kasur, yang menerimanya, membawanya ke Taman Kanak-Kanak Situ Lembang, Jakarta Pusat. “Akhirnya saya jadi asisten Pak Kasur,” tutur Seto.

Kegagalannya masuk ke Fakultas Kedokteran UI, membuatnya putar haluan dengan memasuki Fakultas Psikologi UI, atas saran dari Pak Kasur. Dua tahun kemudian, ia masih membantu Pak Kasur, sambil menjadi pembantu dan pengasuh anak di rumah Direktur Bank Indonesia, saat itu, Soeksmono Martokoesoemo.

Bersama Pak Kasur, Seto bisa menumpahkan “obsesi” masa kecilnya: kecintaan pada anak-anak - sesuatu yang berawal dari kerinduan datangnya seorang adik, setelah adiknya yang masih tiga tahun meninggal. Pilihannya pun makin mantap di saat mengasuh acara Aneka Ria Taman Kanak-Kanak di TVRI, bersama Henny Purwonegoro. Seto mendongeng, belajar sambil bernyanyi, bermain sulap bersama anak-anak.

Ilmu Pak Kasur ia gabungkan dengan kemahirannya bermain sulap, yang sudah ia pelajari sejak masih SD, melalui buku. Teknik mendongeng, menurut pengagum Mahatma Gandhi serta Napoleon ini, ia peroleh dari penulis dan penutur cerita anak-anak, Soekanto , ditambah dengan pengalamannya sendiri.

Dengan bonekanya Si Komo berikut lagunya, ia pun makin lekat dengan anak-anak. Dan, ekonominya pun mulai membaik, hingga setelah menggondol gelar sarjana psikologi, Seto mengundurkan diri dari keluarga Soeksmono.

Saat masih duduk di bangku kuliah, 1983, Seto mendapat kepercayaan Ibu Tien Soeharto untuk mengetuai pelaksanaan pembangunan Istana Anak-Anak di Taman Mini Indah, Jakarta . Bahkan kelompok bermain Istana Anak-anak di yang dikembangkannya, di luar dugaan, memiliki peminat yang cukup banyak. Kini, pengembangan kelompok bermain yang bernaung di bawah Yayasan Mutiara itu sudah menyebar di berbagai cabang di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, sampai di Bandung .

Pada 1987, Seto menikahi Deviana – yang usianya terpaut 20 tahun – gadis yang dicintainya. Tepat pada hari pernikahan, di saat tamu berdatangan, pengantin baru Seto-Devi melaksanakan nazarnya: mendongeng di panti asuhan.

Dengan membaiknya keadaan ekonomi, Seto membeli rumah tinggal di kawasan Cireundeu tetapi tidak ia nikmati sendiri. Sebagian dimanfaatkan untuk sarana bermain anak-anak. Di lahan seluas 2.000 meter persegi itu ada perosotan atau ayunan, ruang kelas, kolam renang mini, laiknya taman kanak-kanak. Semua ruangan didekorasi dengan warna-warna yang ceria dan benar-benar membuat anak-anak merasa di alam fantasi mereka.

Di situlah keempat buah hatinya, Eka Putri Duta Sari, Bimo Dwi Putra Utama, Shelomita Kartika Putri Maharani, dan Nindya Putri Catur Permatasari menikmati masa kecilnya. ''Sebenarnya, tujuan membuat halaman yang luas adalah supaya anak-anak aktif bermain, menikmati alam dengan bebas serta lepas,'' jelasnya, pada kesempatan lain. ''Bila anak-anak terlalu dikekang, akibatnya seperti kuda liar.''

Di dalam keluarga, dia menjadikan anak-anaknya sebagai sahabat dan guru. Hubungannya dengan buah hatinya itu sudah dituangkan dalam buku, 'Anakku, Sahabatku, dan Guruku' (1997). Di buku itu dia menuliskan betapa anak dapat menjadi sahabat dalam berbagi masalah. Anak juga bisa menjadi guru untuk belajar tentang kreativitas, spontanitas, kebebasan berpikir, pemaaf, tidak pendendam, dan mempunyai kasih sayang yang tulus.

Kendati begitu, dia masih saja mengaku tidak selalu tahu tentang anak. Dalam kaitan ini, mantan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara, Jakarta (1994-1997) ini pernah menuturkan, ''Saya bukan tahu segala hal tentang anak-anak, tapi berusaha untuk tahu tentang mereka.'' Untuk itu, ''Saya memiliki senjata rendah hati, tidak pernah merasa paling berkuasa di keluarga, menghormati mereka sehingga mereka terbuka kepada saya.''

Kedekatannya dengan anak-anak, boleh jadi, membuat Seto kian merasakan kebutuhan untuk perkembangan anak. Dia pun mengharapkan agar anak-anak dipenuhi hak-hak mereka: hak memperoleh suasana gembira, hak bermain, dan hak untuk tumbuh dan berkembang dalam suasana tenang, tanpa merasa tertekan.

Kreativitas dan ide Seto makin cemerlang dengan mendirikan sekolah TK Mutiara . Juga membentuk Yayasan Nakula-Sadewa yang menghimpun anak-anak kembar yang berasal dari keluarga kurang mampu. Sebagai pakar psikologi anak yang bergelar doktor, selain menjadi dosen di Universitas Tarumanegara, Jakarta , ia kerap menjadi pembicara dalam seminar, menulis artikel, dan buku.

Atas pengabdiannya pada dunia anak-anak, yang sampai kapan pun akan terus dilakukannya, Seto telah dianugerahi sejumlah penghargaan. Antara lain Orang Muda Berkarya Indonesia, kategori Pengabdian pada Dunia Anak-anak dari Presiden RI (1987), The Outstanding Young Person of the World, Amsterdam; kategori Contribution to World Peace, dari Jaycess International (1987), Peace Messenger Award, New York, dari Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar (1987) dan The Golden Balloon Award, New York; kategori Social Activity dari World Children’s Day Foundation & Unicef (1989). Kemudian, walau tak pernah terlintas dalam benaknya, sejak 1998, Seto dipercaya menjadi Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA).

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA), Seto semakin giat berkarya membela anak-anak. Pasca bencana Tsunami di Aceh misalnya, ia bersama pemerintah merealisasikan pembentukan Trauma Center . Pendirian Trauma Center ini ditujukan untuk menangani gangguan traumatis pada anak-anak Aceh yang menjadi korban bencana alam dahsyat tersebut. Apa yang paling cepat membantu menyembuhkan trauma anak? "Adanya cinta, perhatian, dan dunia indah untuk bermain," kata Seto.

Seto yang mempunyai motto: bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai anak-anak ini berharap supaya semua orang menganggap setiap hari adalah hari anak. “Bukan cuma tanggal 23 Juli saja, tapi setiap hari adalah hari untuk anak,” kata Seto. “Sehingga anak-anak sekarang, apalagi yang terpinggirkan, bisa memperoleh hak-haknya sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik dan menjadi putra-putri bangsa yang terbaik untuk bangsanya,” ujarnya lagi.(BANG IMAM)
Alamat Rumah/Kantor : Jalan Taman Cirendeu Permai 13, Ciputat Jakarta Selatan 15419

Categories BIOGRAFI